Mungkin ini adalah salah satu topik yang sangat penting dan menarik untuk dilakukan analisa secara lebih akurat. Dalam kesempatan ini saya hanya menganalisa berdasarkan pengalaman pribadi saya selama hampir 6 tahun bertugas di lingkungan kerja dengan fasilitas yang sangat minim (dental chair tidak berfungsi baik itu pompa hidroliknya, lampunya, maupun hightspeednya. Dengan kata lain dental chair yang tidak ubahnya seperti KURSI biasa saja). Perlu diketahui hampir mencapai 90%, masyarakat yang datang ke Poli Gilut (gigi dan mulut ) Puskesmas Punggur adalah untuk minta dilakukan pencabutan dan rata2 mereka datang dengan kondisi kerusakan gigi yang sudah parah ( indicator secara klinis adalah gigi sudah mengalami kehancuran mahkota/tinggal sisa akar,adanya lubang yang besar disertai perubahan warna ,terdapat polip pulpa, pasca gingival abses, atau datang dengan mandibular abses,trismus karena infeksi gigi,periodontal akut). Ada juga yang datang dengan kondisi gigi masih dalam tahap pulpitis reversible/Hiperemia pulpa, tetapi setiap kami (saya dan perawat gigi saya menyarankan untuk dilakukan perawatan mereka menolak, bahkan terkesan tidak berminat mendengar nasehat2 kami bahwa mempertahankan keberadaan gigi asli jauh lebih baik dari pada mencabut gigi dan kemudian memakai gigi palsu. Tapi hal ini bukan semata2 karena sulitnya mengubah pola pikir masyarakat desa tersebut, di Puskesmas kami juga sarana dan prasarananya sangat tidak mendukung untuk melakukan perawatan gigi. Sehingga kami hanya bisa merujuk dan merujuk pasien, baik itu ke Puskesmas kotamadya dan kerumah sakit umum daerah. Sudah pasti masyarakat akan sangat keberatan apabila harus kembali menempuh jarak yang cukup jauh hanya untuk sekedar melakukan perawatan gigi,belum lagi mereka dibayangi biaya yang mungkin mahal. Ketika suatu ketika saya melakukan kunjungan ke Puskesmas di wilayah kotamadya, disitu tertera bahwa jumlah kunjungan pasien pada poli Gilut untuk melakukan perawatan gigi dibandingkan dengan yang mencabutkan giginya, lebih besar yang melakukan perawatan, hampir 80%. Ketika itu saya melihat fasilitas di poli gilut di Puskesmas tersebut sudah lengkap, bahkan sudah ada tambal dengan komposit, scaler elektrik, air yang mengalir lancar. Sejawat saya mengatakan masyarakat diwilayah kerjanya sudah mulai sadar pentingnya mempertahankan keberadaan giginya dibandingkan dengan mencabutkan giginya, sejak di Puskesmasnya tersedia sarana poli gilut yang lengkap. Sebelumnya masyarakat disana juga enggan untuk dirujuk ke tempat lain demi menambalkan giginya, sehingga lebih memilih untuk dicabut saja. Dengan demikian masalah mereka dengan penyakit gigi tuntas sudah. Disini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa masyarakat mungkin menginginkan perawatan yang cepat dan tepat serta dekat dengan tempat tinggal mereka , untuk mengatasi problem sakit giginya. Kadang mereka memang bertanya bila mereka saya sarankan untuk mempertahankan giginya, apakah di Puskesmas saya melayani tambal, kemudian terlihat raut wajahnya kecewa jika kami menjawab, kami tidak punya alat untuk menambal. Sehingga mereka memilih PRAKTISnya saja…”udahlah bu,cabut saja gigi saya” begitu mereka minta. Sangat berat mengubah pola pikir masyarakat, tentang pentingnya mempertahankan KEUTUHAN gigi geligi. Mereka beranggapan selesai sudah masalahnya jika gigi sudah tercabut, toh bisa memakai gigi palsu, selain itu mereka beranggapan bahwa menambal gigi kemungkinan akan sakit dan nanti pasti bisa sakit lagi walaupun sudah ditambal. Jadi tidak heran banyak orang2 berusia dibawah 35 tahun sudah memakai gigi palsu( full denture!!), anak2 usia kurang lebih 20 tahun banyak yang jumlah giginya sudah berkurang hingga 50%, belum lagi siswa2 SD yang sebagian besar molar pertamanya rusak berat. Seandainya tersedia sarana yang memadainya, mungkin kami bisa sedikit memotivasi masyarakat untuk mempertahankan dan merawat giginya. Karena masyarakat ingin hal yang nyata, promosi dari mulut kemulut bahwa ditambal itu lebih baik drpd dicabut, dan semuanya seharusnya sudah bisa disediakan oleh Puskesmas terdekat dengan biaya yang terjangkau oleh mereka. Kapan semuanya bisa terwujud??? saya juga tidak mengerti karena setiap tahun saya selalu menulis dan menulis tentang peralatan yang di butuhkan, tetapi nyatanya tidak pernah saya dapatkan hingga sekarang. Karena pada saat ini kita tidaklah cukup dengan hanya sekedar penyuluhan dan penyuluhan saja, tetapi harus tetap ada sarana penunjang dari penyuluhan2 yang kami berikan,yaitu alat di poli gigi dan mulut yang lengkap. Mudah2an kabupaten Kubu Raya yang merupakan pemekaran dari kabupaten Pontianak LEBIH jeli dalam melihat kebutuhan dari masyarakatnya….amien…..
Jalan Kaki Jilid 2 Payangan – Denpasar
3 days ago


4 comment:
Amiin. Dgn tulisan2 mba, insya Alloh uda mrupakan sebuah kontribusi brharga. Mudah2n pihak2 yg brkepentingn ato stakeholder ada yg brkenan mmbaca posting mba, bahkan mmberikn alternatif jln keluarnya..
sebenernya ini curhat koq...krn 6 th ga da perubahan apa2 dlm lingkungan kerja saya.stagnan baik itu Puskesmas dan poli gigi saya.Ga tahu apakah mmg ga ada anggaran pengadaan alat2 yg baru atau apa.kecewa...sudah pasti...pdhal kabupaten saya adalah kabupaten terdekat di kota Pontianak,alatnya msh sangat primitif begini.Kmrn saya coba2 ngajukan proposal ke PT.Unilever Indonesia Terbuka,agar UKGS saya bisa dikunjungi oleh mereka dan mendapatkan sarana/alat peraga penyuluhan yang bagus.Karena jujur tempatku ga pernah dapet poster2 dr Unilever.nyari disetiap event2 kedokteran Gigi ga pernah dapet.Mudah2n disetujui.kalo ada kenalan yg di Unilever mau lo saya dibantu...heheheehhhh....tks
Kirain kaltim lebih banyak anggarannya drpd banjar,, di sini kursi yang itu udah gak ada lagi buu.., dulu aku juga pake yang seperti itu...,,gpp berjuang terus ya..,nanti pasti di tanggapi ko
Ponti di kalbar mas/mbak/dok...hehehehh....kalo kaltim jgn ditanya kayaknya alat2 mereka pasti oke2 lah. Puskesmas tempat teman di Tarakan udah standart ISO lo....kerennn ga??....pemdanya emang OKE!!! di Ponti sih masih sangat jauuuhhh....rumkitnya jak belom ISO....melas....
Post a Comment