Tuesday, May 19, 2009

Program Kesehatan Gigi Sekolah ( UKGS ), Kendala dan Solusinya


UKGS merupakan program pemerintah dalam bidang kesehatan gigi dan mulut.Program ini sudah dilaksanakan selama bertahun2, tetapi tingkat keberhasilannya saya rasakan belum nampak, hal ini berdasarkan survey DMFt yang relative tinggi, kurang lebih 6 untuk wilayah propinsi Kalimantan Barat pada tahun 2002. Untuk wilayah kerja Puskesmas Punggur angka DMFt mencapai angka yang sangat tinggi (tak terhingga!!!). Berdasarkan analisis yang dilakukan oleh Dr.drg.Irene Adyatmaka,M.Kes kelemahan program UKGS adalah meliputi lemahnya desain program UKGS itu sendiri antara lain kurang memberdayakan komunitas sekolah, seolah2 program UKGS adalah HANYA program milik dokter gigi dan Puskesmas saja, Program ini juga tidak melibatkan sama sekali keluarga (family capital dan Resilience) sehingga tidak terjadi kapasitasi dan pemberdayaan keluarga/masyarakat sebagai unsur penting Primary health care (PHC). Kelemahan yang ke 2 adalah Sustainabilitas sangat terganggu/kurangnya dukungan baik itu dari pemerintah pusat, maupun dari pemerintah daerah terutama setelah era desentralisasi,yang mana daerah tidak memberikan prioritas ( tidak ada anggaran bagi program UKGS, selain itu perawatan untuk kesehatan gigi dianggap sangat mahal, serta bukan penyakit yang mematikan sehingga tidak menjadi program prioritas). Selain itu selama ini pengertian dari usaha preventive adalah usaha pencegahan yang meliputi penyuluhan tentang bagaimana menyikat gigi yang benar, cara memlih sikat gigi, waktu menggosok gigi yang benar serta makanan apa saja yang perlu di hindari agar gigi tidak mengalami kerusakkan dini dan makanan apa saja yang diperlukan untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Namun apa hasil yang kita dapatkan selama ini angka DMFt tetap tinggi, dan anak2 yang kita suluh juga tidak berubah pola hidupnya dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut. Berdasarkan penelitian dari Dr.drg.Irene jugalah didapatkan bahwa yang selama ini kita maksud dengan tindakan preventive adalah kurang tepat, lebih tepatnya yang dimaksud dengan preventive adalah art and science of managing risk factors of each individual patient to promote optimum oral health ( preventive adalah managament factor resiko pada masing2 individu, untuk mendapatkan kesehatan gigi dan mulut yang optimum). Kenapa tindakan pencegahan dengan mengatur factor resiko pada masing2 individu dianggap berhasil, karena dengan memperhatikan kebiasaan dan pola hidup masing2 individu, kita bisa mengatur kebisaan2 mereka untuk mengubah pola hidup dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut, mengontrol cara menyikat giginya, mengontrol waktu menyikat gigi, memberitahukan pada mereka untuk mencoba memakai sikat gigi, pasta gigi yang kita rekomendasikan, memberitahukan pada masing2 individu makanan2 apa yang boleh mereka lanjutkan untuk dikonsumsi, makanan yang perlu dikurangi bahkan makanan yang sama sekali harus dihindari.Setelah masing2 individu kita beri penyuluhan, maka masing2 pada kunjungan berikutnya minimal selama 2 minggu kita tanya kembali, apakah anak2 mereka masing2 sudah melaksanakan apa yang kita minta, kemudian kita tunjukkan hasilnya bila mereka mengikuti apa yang kita minta, dan menunjukkan juga hasil bila mereka tetap pada kebiasaan lamanya. Hal itu harus rutin kita laksanakan, jadi tidak hanya sekali kunjungan saja , namun berkali2 dan berkala sampai kita dapat hasil yang kita mau. Kembali lagi hal itu memang memerlukan keterlibatan berbagai pihak , pemerintah selaku pemegang program utama UKGS, puskesmas yang ditunjuk sebagai pelaksana program, sekolah yang menjadi tempat pelaksanaan program dan tentunya orang tua/wali murid yang di berikan program. Sudah pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit, waktu yang panjang dan KETELATENAN pihak2 terkait. Memang untuk mencapai tujuan yang baik dan berhasil memerlukan PENGORBANAN dan PROSES yang panjang. TERCAPAINYA KESEHATAN GIGI DAN MULUT DENGAN MENURUNKAN ANGKA DMFt pada anak2 usia sekolah dasar mudah2an BUKAN HANYA MIMPI BELAKA. Terutama untuk wilayah Kalimantan Barat, mungkin harus memperhatikan hal ini, karena meskipun bukan program kesehatan utama, tetapi kesehatan gigi dan mulut memegang peranan dalam menentukan kualitas hidup masyarakatnya. Jangan sampai putra putrid Kalimantan Barat tidak mendapatkan tempat di kancah dunia kerja nasional/maupun internasional HANYA karena masalah kesehatan gigi yang buruk ( perlu diketahui angka DMFt , dan angka kesakitan gigi dan mulut di wilayah ini adalah TERTINGGI dari seluruh propinsi di Indonesia. Setelah dilakukan penelitian hal ini karena pola hidup masyarakatnya yaitu mengkonsumsi air hujan, serta masih rendahnya rata2 tingkat pendidikan di wilayah ini). Mudah2an pemerintah daaerahnya memperhatikan hal ini lebih serius lagi. Misalnya mengadakan program Fluoridasi air minum seperti yang dilakukan di Birmingham pada tahun 1967!!!...so….dokter gigi bukan SUPERMAN…..kami memerlukan uluran tangan dan kerjasama lintas sektoral.MUDAH2AN TERCAPAI.


3 comment:

tantursyah said...

Yap setuju mba, drg bukan superman. Btw, tulisannya bagus mba. Mgkin mba tertarik bwat mmpublikasikn di majalah.. :)

SETYA WARDANI said...

pengen juga sih...skr masih seneng2aja nulis2...

tantursyah said...

O gitu ya mba :) mgkin bila nanti mba tiba2 kepingin, klo mnrt saya, tulisan mba bagus bwat majalah cdk kalbe ato medika. Blogger yg uda perna nerbitin postnya di cdk, mas andri, http://eharmayaku.blogspot.com/2009/05/dimuat-di-majalah-cermin-dunia.html.